Solid State Relay
: Sebuah Alternatif untuk
“AC Power Control”
Susanto Wibisono Koselan
Actual control system, now no longer rely on the use of
a relay as an interface between digital controls, which have a low voltage
DC 5volt, with a controlled application using alternating voltage (AC
voltage) 220 volt. Use of this relay started switching to the use of solid
state relays, which is more commonly called SSR relay.
Kontrol sistem yang sebenarnya, saat
ini tidak lagi bergantung pada penggunaan relay sebagai interface antara
digital kontrol, yang mempunyai level tegangan rendah DC 5volt, dengan
aplikasi yang dikontrol yang menggunakan tegangan bolak-balik (tegangan AC)
220 volt. Penggunaan relay saat ini mulai beralih pada
penggunaan solid state relay, yang lebih umum disebut SSR relay.
Baik relay kontaktor biasa maupun solid
state relay (SSR) mempunyai keuntungan dan kerugian.
Baik keuntungan maupun kerugian tersebut merupakan ‘trade-off’ yang harus
dipilih bagi disainer sistem kontrol.
Pada dasarnya Solid state relay (SSR)
merupakan relay yang dapat didiskripsikan sebagai berikut :
¨
Mempunyai empat buah
terminal, 2 input terminal dan 2 buah output terminal.
¨
Tegangan input dapat berupa
tegangan AC atau DC.
¨
Antara output dan input
diisolasi dengan sistem optikal.
¨
Output menggunakan keluarga
thyristor, SCR untuk beban DC dan TRIAC untuk beban AC.
¨
Switching ON, yang sering
disebut ‘firing’, solid state relay hanya bisa terjadi pada saat
tegangan yang masuk ke output pada level yang sangat rendah mendekati nol
volt.
¨
Output berupa tegangan AC
(50 Hz atau 60 Hz).
Gambar 1 Blok Diagram Solid-State Relay (SSR)
Keuntungan dan Kerugian Penggunaan
Solid-State Relay
Penggunaan solid state relay mempunyai
beberapa keuntungan yang menyebabkan solid-state relay
saat ini menarik untuk digunakan pada aplikasi-aplikasi kontrol untuk beban
AC daripada digunakannya relay mekanik (Electromechanical Relay, EMR),
walaupun biaya sebuah solid-state relay lebih mahal daripada biaya sebuah
relay mekanik biasa.
Gambar 2 Proses Kerja
Solid-State Relay
Keuntungan solid-state relay :
1.
Pada solid-state relay
tidak teedapat bagian yang bergerak seperti halnya pada relay.
Relay mempunyai sebuah bagian yang bergerak yang disebut kontaktor
dan bagian ini tidak ada pada solid-state relay.
Sehingga tidak mungkin terjadi ‘no contact’ karena kontaktor tertutup
debu bahkan karat.
2.
Tidak
terdapat ‘bounce’, karena tidak terdapat kontaktor yang bergerak paka
pada solid-state relay tidak terjadi peristiwa ‘bounce’ yaitu
peristiwa terjadinya pantulan kontaktor pada saat terjadi perpindahan
keadaan. Dengan kata lain dengan tidak adanya bounce
maka tidak terjadi percikan bunga api pada saat kontaktor berubah keadaan.
3.
Proses perpindahan dari
kondisi ‘off’ ke kondisi ‘on’ atau sebaliknya sangat cepat hanya membutuhkan
waktu sekitar 10us sehingga solid-state relay dapat dengan mudah
dioperasikan bersama-sama dengan zero-crossing detektor.
Dengan kata lain opersai kerja solid-state relay dapat disinkronkan
dengan kondisi zero crossing detektor.
4.
Solid-State relay kebal
terhadap getaran dan goncangan. Tidak seperti relay
mekanik biasa yang kontaktornya dapat dengan mudah berubah bila terkena
goncangan/getaran yang cukup kuat pada body relay tersebut.
5.
Tidak menghasilkan suara ‘klik’,
seperti relay pada saat kontaktor berubah keadaan.
6.
Kontaktor output pada
solid-state relay secara otomatis ‘latch’ sehingga energi yang
digunakan untuk aktivasi solid-state relay lebih sedikit jika dibandingkan
dengan energi yang digunakan untuk aktivasi sebuah relay.
Kondisi ON sebuah solid-state relay akan di-latc sampai
solid-state relay mendapatkan tegangan sangat rendah, yaitu mendekati nol
volt.
7.
Solid-State relay sangat
sensitif sehingga dapat dioperasikan langsung dengan menggunakan level
tegangan CMOS bahkan level tegangan TTL. Rangakain
kontrolnya menjadi sangat sederhana karena tidak
memerlukan level konverter.
8.
Masih terdapat couple
kapasitansi antara input dan output tetapi sangat kecil sehingga arus
bocor antara input output sangat kecil. Kondisi
diperlukan pada peralatan medical yang memerlukan isolasi yang sangat baik.
Keuntungan solid-state relay begitu baik
sekali tetapi dibalik keuntungan tersebut terdapat kerugian penggunaan
solid-state relay yang perlu
dipertimbangkan dalam penggunaannya.
Kerugian solid-state relay adalah sebagai
berikut :
1.
Resistansi Tegangan
transien. Tegangan yang diatur/dikontrol oleh
solid-state relay benar-benar tidak bersih. Dengan kata
lain tidak murni tegangannya berupa sinyal sinus dengan tegangan peak to
peak 380 vpp tetapi terdapat spike-spike yang dihasilkan oleh induksi
motor atau peralatan listrik lainnya. Spike ini level
tegangannya bervariasi jika terlalu besar maka dapat merusakkan solid-state
relay tersebut. Selain itu sumber-sumber spike yang lain
adalah sambaran petir, imbas dari selenoid valve dan lain sebagainya.
2.
Tegangan drop.
Karena solid-state relay dibangun dari bahan silikon maka terdapat
tegangan jatuh antara tegangan input dan tegangan output.
Tegangan jatuh tersebut kira-kira sebesar 1 volt.
Tegangan jatuh ini menyebabkan adanya dissipasi daya yang besarnya
tergantung dari besarnya arus yang lewat pada solid-state relay ini.
3.
Arus bocor-‘Leakage
current’. Pada saat solid-state relay ini dalam keadaan
off atau keadaan open maka dalam kondisi yang idel seharusnya tidak ada arus
yang mengalir melewati solid-state relay tetapi tidak
demikian pada komponen yang sebenarnya. Besarnya arus
bocor cukup besar untuk jika dibandingkan arus pada level TTL yaitu sekitar
10mA rms.
4.
Sukar dimplementasikan pada
aplikasi multi fasa.
5.
Lebih mudah rusak jika
terkena radiasi nuklir.
Gambar 3 Rangkaian internal Solid-State
Relay
Pada solid-state ralay, switching unit-nya
biasanya menggunakan TRIAC sehingga solid-state relay ini dapat mengalirkan
arus baik arus positif maupun arus negatif. Walaupun
demikian untuk mengontrol TRIAC ini digunakan SCR yang mempunyai
karakteristik gate yang sangat sensitif. Kemudian untuk
mengatur trigger pada SCR sendiri diatur dengan menggunakan rangkaian
transistor. Rangkaian transistor ini menjadi penguat
level tegangan yang didapat dari optocoupler. Penggunaan
SCR untuk mengatur gate TRIAC karena gate SCR mempunyai karakteristik yang
lebih sensitif daripada gate TRIAC.
Antara bagian input dan output dipisahkan
dengan menggunakan optocoupler dan dengan sinyal yang kecil, cukup untu
menyalakan diode saja, maka cukup untuk menggerakkan sebuah bebab AC yang
besar melalui solid-state relay.
Gambar 4 Daerah Pengaktifan sebuah
Solid-State Relay
Rangkaian kontrol merupakan rangkaian
kontrol biasa, seperti pada umumnya. Fungsi logika AND,
pada blok diagram rangkaian internal SSR, dibangun dari dua buah transistor
Q1 dan Q2 yang bekerja untuk menghasilkan logika inverted NOR. Q1 akan
melakukan ‘clamps’ jika optocoupler OC1 dalam keadaan off.
Q2 akan melakukan ‘clamps’ jika tegangan bagi antara R4 dan R5
cukup untuk mengaktifkan transistor Q2. Sehingga Q2 akan
melakukan clamp pada SCR jika tegangan anode SCR lebih dari 5 volt.
Jika OC1 ‘ON’ maka Q1 akan OFF sehingga
Q1 tidak melakukan clamp pada SCR. SCR akan aktif jika
Q2 juga dalam kondisi OFF. Kondisi ini terjadi pada saat
terjadinya zero crossing. Penambahan kapasitor C2
bertujuan untuk menghindari kemungkinan SCR di trigger berulang-ulang.
C1 berguna untuk menyediakan arus yang cukup untuk sumber tegangan
sementara pada saat terjadinya ‘firing’ pada gate SCR, selain itu C1
juga berfungsi untuk menghindari kondisi ditriggernya gate SCR
berulang-ulang.
Penambahan C1 dan C2 akan menghindari
trigger SCR pada saat tegangan anode SCR turun (down slope), kondisi
ini memang tidak diharapkan. Komponen D2 akan
memperbolehkan gate SCR di-reverse bias untuk
menghasilkan kekebalan terhadap noise. D1 berfungsi
untuk melindungi tegangan input yang berlebihan di atas rating tegangan
optocoupler OC1. Komponen SCR yang digunakan, jika ingin
membangun sebuah SSR sendiri, adalah SCR dengan tipe 2N5064, 2N6240.
TRIAC yang digunakan adalah 2N6343 dengan
C11 sebesar 47nF dengan tegangan disesuaikan dengan rating tegangan aplikasi
TRIAC dan diode yang mentrigger gate TRIAC ini harus 1N4004.
TRIAC merupakan komponen yang terdiri
dari 2 buah SCR yang terpasang paralel tetapi terbalik.
Kondisi ini menyebabkan timbulnya masalah pada beban induktif yaitu pada
saat kondisi turn-off TRIAC. TRIAC harus mati pada saat
setiap ˝ cycle yaitu pada saat tegangan jala-jala PLN mendekati nol volt.
TRIAC harus melakukan bloking tegangan pada saat tegangan mulai
mencapai 1-2 volt dalam keadaan tegangan inverse.
Kejadian ini terjadi sekitar 30us pada rate frekuensi jala-jala 60Hz.
Pada beban induktif TRIAC tidak sempat dalam kondisi benar-benar OFF
untuk dapat ditrigger kembali. Kejadian ini akan
menyebabkan TRIAC pada beban induktif tertentu akan menyebabkan TRAIC tidak
dapat OFF dan kontrol tidak akan berfungsi untuk mengontrol TRIAC ini
kecuali dengan jalan memutuskan aliran arus yang menuju terminal TRAIC ini
secara manual.
Untuk menghindari kejadian seperti ini
maka output sebuah solid-state relay harus ditambahkan sebuah rangkaian
snubber jika solid-state relay ini digunakan untuk beban yang bersifat
induktif.
Walaupun demikian dapat digunakan
solid-state relay yang komponen output unitnya berupa SCR.
SCR lebih mudah digunakan dalam mengontrol beban induktif, walaupun
demikian untuk amannya sebuah sistem kontrol maka perlulah dipertimbangkan
untuk diberikannya sebuah rangkaian snubber pula untuk beban induktif.
Walaupun solid-state relay dengan SCR
maupun TRAIC- nya yang membuat perlunya sedikit pertimbangan
dalam pemberian rangkaian snubber pada beban induktif, solid-state
relay secara umum lebih baik pada penggunaanya terutama untuk aplikasi yang
membutuhkan isolasi antara input dan output yang baik.
Memang harga bolehlah mahal tetapi untuk kualitas yang baik maka komponen
ini bisa menjadi sebuah alternatif untuk menggantikan sebuah relay mekanik
pada aplikasi-aplikasi tertentu.