Remote Speaker Melalui
Jala-Jala Listrik
Oleh Susanto
Wibisono Koselan
Penempatan speaker unit pada ruang yang berbeda dengan amplifier unit tentunya
akan membutuhkan kabel yang cukup panjang dan penataan instalasi kabel yang baik
agar kabel yang dipasang terlihat rapi, bahkan tidak terlihat, dan menghasilkan
kualitas suara yang baik. Salah satu solusinya adalah menggunakan kabel yang
sudah ada, yaitu kabel instalasi listrik.
Penggunaan jala-jala listrik sebagai media transmisi sinyal audio memang bisa
direalisasikan namun membutuhkan kehati-hatian dalam pelaksanaanya. Ini
merupakan solusi yang baik karena tidak perlu menambahkan sebuah instalasi kabel
baru untuk menghubungkan speaker dengan sumber suara, seperti radio atau tape
yang dinginkan dan dapat menghasilkan kualitas suara yang baik.
Untuk membentuk sistem ini digunakan modulasi FM yang menggunakan IC yang banyak
dipasaran yaitu LM566, Voltage Control Oscilator, dan LM565, sebuah detektor PLL.
LM566 digunakan untuk memodulasi sinyal audio yang ingin ditransmisikan dengan
metode modulasi FM dan di-mix dengan jala-jala listrik dengan menggunakan sebuah
transformator. Transformator yang digunakan dapat berupa transformator MF. Pada
sisi penerima, sinyal modulasi FM ini dipisahkan dari jala-jala listrik dengan
menggunakan sebuah transformator MF. Dengan menggunakan LM565 maka didapatkan
sebuah sinyal audio yang masih lemah.
Pada sistem ini sinyal audio yang telah dimodulasi secara FM ini akan kebal
terhadap gangguan sinyal noise dan tetapi menghasilkan kualitas suara yang baik.
Inilah kelebihan dari sistem yang menggunakan modulasi secara AM. Jadi dengan
menggunakan metode modulasi FM, noise yang timbul pada jalur jala-jala listrik
akan di-reject oleh detektor dan LM565.
Sistem ini cocok untuk transmisi suara yang memerlukan kualitas yang baik
seperti musik atau pembicaraan serta dapat dioperasikan di mana saja (sebatas
di dalam sebuah rumah) asalkan ada outlet jala-jala listrik.
Blok Diagram
Gambar 1Blok Diagram Remote Speaker
Pada bagian sumber audio dapat berupa tape atau radio yang sinyalnya diambil
dari konektor line out/tape out. Jika output ini tidak ada maka dapat diambilkan
dari speaker output. Kondisi seperti ini akan menyebabkan volume suara di
bagaian remote unit akan dikontrol oleh volume pada sumber audio.
Pada bagian transmiter unit sinyal dari audio ini dimodulasikan dengan modulasi
FM yang kemudian di campur dengan tegangan jala-jala listrik dengan menggunakan
couple transformer. Pemudulasian FM dilakukan dengan menggunakan IC LM566
yang dalam ini berfungsi sebagai voltage control oscilator, dimana output
frekuensinya dapat berubah-ubah sesuai dengan tegangan amplitudo dari sinyal
audio yang masuk pin input modulasi.
Gambar 2 Fungsi Pin Pada LM566 dan LM565
Pada bagian receiver unit, sinyal audio yang telah dimodulasikan didemodulasi
dan juga melakukan reject kepada sinyal noise yang ikut diambil dari
jalur jala-jala listrik. Dan pada bagian audio output sinyal audio yang telah
didemodulasikan dengan menggunakan LM565 dikuatkan dengan menggunakan LM380,
sebuah audio power amplifier 2.5 watt. Jika ternyata suara yang dihasilkan masih
kurang kuat maka dari output LM380 dapat dikuatkan lagi dengan menggunakan
sebuah power amplifier yang mempunyai daya output lebih besar.
Bagian Transmitter
Pada sistem ini frekuensi sinyal carrier yang dapat digunakan adalah
100KHz atau 200KHz sehingga jika hanya menginginkan output mono maka input
sinyal bagian kiri dan input sinyal bagian kanan dicampur dan hanya menggunakan
sebuah frekuansi carrier saja. Tetapi jika dinginkan output speakernya
tetap stereo maka diperlukan dua set transmitter-receiver unit dengan frekuensi
carrier yang berbeda.
Frekuensi carrier yang digunakan harus lebih tinggi dari 100KHz dan
kelipatannya agar tidak terjadi interferensi antara sinyal carrier yang
satu dengan yang lainnya.
Level tegangan sinyal input diatur oleh R1 agar tidak terjadi over modulation
yaitu ketika sinyal modulasinya menghasilkan frekuensi diluar range yang
dinginkan. Inilah yang biasanya menyebabkan interferensi. Untuk meningkatkan
respon frekuensi sampai 20KHz dapat digunakan rangkaian C2, R7 dan R8. Rangkaian
C2, R7 dan R8 ini tidak selalu harus ditambahkan.
Penentuan free running frequency (fc) pada VCO, LM566, ditentukan oleh
nilai R4 dan C4. Pada rangkaian pada gambar 3, frekuensi VCO pada 200KHz.
Free running frequency ini akan menjadi frekuensi dasar modulasi FM sehingga
pada frekuensi 200KHz ini cukup efektif ketika sinyal ini di-couple-kan ke
jala-jala listrik dengan menggunakan sebuah trafo MF.
Gambar 3 Rangkaian Transmitter Unit
Sensitivitas dari VCO pada bias 12volt sekitar
±0.66 fc/V. Agar distorsi yang terjadi
menjadi minimum maka deviasi frekuensi harus dibatasi sampai
±10% pada saat level tegangan input
modulasi maksimal pada ±0.15 Vpeak. Dan
untuk mengatur level sinyal input ini digunakan sebuah potensiometer 10k yang
berfungsi sebagai pembagi tegangan. Output dari LM566 ini diambilkan dari pin 3,
yaitu pin squre wave modulated yang mempunyai level tegangan 6Vpp.
Sebelum di-couple-kan ke jala-jala listrik dengan menggunakan sebuah trafo MF,
sinyal modulasi ini (berupa sinyal kotak) dikuatkan dengan menggunakan sebuah
transistor 2N2222. Level tegangan di kolektor besarnya maksimal 40-50Vpp.
Karakteristik ini tergantung dari besarnya VCE pada 2N2222. Karena T1
sudah di tune pada fc maka lilitan pada T1 bagian primer akan mempunyai
impedansi yang tinggi yang membebani kolektor sehingga pada kolektor Q1 tidak
memerlukan pembatas arus lagi. Kapasitor C8 akan mengisolasi transformator MF
dari sinyal sinus tegangan jala-jala listrik 60Hz.
LM7812 digunakan untuk melakukan rejection pada sinyal dari VCO dan
melakukan regulasi tegangan menjadi 12V.
Bagian Receiver
Pada bagian penerima, sinyal modulasi dipisahkan dari jala-jala listrik dengan
menggunakan trafo MF, dikuatkan, dibatasi, dan didemodulasi agar kembali menjadi
sinyal audio seperti yang diterima oleh bagian transmitter. Pada saat tidak ada
sinyal modulasi maka bagian receiver in harus tidak menghasilkan suara apapun
pada output LM380.
Sinyal modulasi/sinyal carrier di-couple secara kapasitif dari jalur
jala-jala listrik kemudian ke trafo MF T1 yang sudah di tune. Pembeban
rangkaian tank circuit dengan transistor Q (Q1A dab Q1B) dan R1 akan
menyebabkan hanya ±10% sinyal modulasi
yang diterima dan juga untuk mencegah terjadinya osilasi pada rangkaian tank
circuit tersebut.
Gambar 4 Rangkan Receiver Unit
Impedansi lilitan sekunder T1 harus disesuaikan dengan impedansi basis
transistor Q1A sehingga level tegangan carrier yang diterima akan
bervariasi antara 0.2 sampai 45 Vpp sedangkan pada basis Q1a sekitar
12mV sampai 2.6V. Transistor yang digunakan disini semuanya adalah LM3046 yang
di dalam sebuah kemasannya terdiri dari 5 buah transistor. Q1A-Q1D
berfungsi sebagai amplifier sekaligus berfungsi sebagai pembatas yang outputnya
berupa gelombang kotak yang simetri
±7Vpp.
Output ini dilemahkan terlebih dahulu sampai 1Vpp dan kemudian langsung
dihubungkan ke peak detektor pada LM565.
PLL pada LM565 beroperasi seperti narrow band tracking filter yang
melakukan tracking pada sinyal input dan menghasilkan distorsi yang rendah pada
sinyal output demodulasi dan rasio S/N yang tinggi. Osilator internal LM565
diset pada frekuensi sekitar 200KHz (fc). Nilai ini ditentukan dari fo = 1/(3.7
x R16 x R17). Agar PLL dapat me-lock frekuensi fc
maka R16 kira-kira harus bernilai 4k7 atau 5k1 dengan nilai C13
sebesar 300nF. Penambahan C10 adalah untuk melemahkan sinyal
carrier yang masuk ke power amplifier. Walaupun tidak dapat didengar oleh
pendengaran manusia jika tidak dibatasi akan mengakibatkan power amplifier LM380
akan over load.
Rangkaian detektor mute, yang dibangun dari rangkaian D1, Q2, dan C7. Ketika
tidak ada sinyal carrier maka Q1E akan ON dan akan
menyebabkan sinyal audio dibuang ke ground. Ketika terdapat sinyal carrier
maka 7Vpp sinyal kotak akan dideteksi level tegangan puncaknya dan
diintegralkan kemudian di rata-rata dengan rangkaian R9C7
dan R11C6 dan akan menghasilkan tegangan rata-rata sekitar
–4V. Tanpa rangkaian mute ini maka pada saat tidak ada sinyal carrier
maka ada kecenderungan pada PLL untuk melakukan lock sinyal noise dan hal
ini tidak dinginkan. Output dari LM380 dapat langsung dihubungkan ke speaker 8W
melalui sebuah kapasitor couple sebesar 470uF.
Setting Frekuensi Carrier
Pengaturan frekuensi carrier dapat dilakukan dengan mudah karena hanya
sedikit bagian yang memerlukan pengaturan. Frekuensi sinyal carrier yang
dihasilkan oleh transmitter unit ini berada pada sekitar 200KHz yang ditentukan
oleh nilai R4 dan C4. Nilai R4 dan C4 tidak perlu terlalu presisi.
Yang paling penting adalah melakukan tune pada T1 pada kedua unit
tersebut, unit transmitter dan unit receiver agar dihasilkan output sinyal
carrier yang paling tinggi. Untuk penempatan receiver unit yang agak jauh maka
pada bagian receiver perlu dilakukan setting ulang yaitu pada bagian PLLnya.
Pengaturan dilakukan dengan mengatur nilai R16 sampai PLL tidak lagi
melakukan lock yang ditandai dengan munculnya noise semakin besar.
Buatlah tanda pada potensionmeter R16 ini kemudian ulangi lagi dengan
memutar potensiometer ini ke arah yang berlawanan sampai PLL kembali tidak dapat
melakukan lock sinyal carrier. Tandailah posisi ini dan kemudian
aturlah potensiometer ini pada posisi ditengah-tengah tanda yang telah dibuat.
Setting terakhir yaitu pada volume suara yang dapat diterima oleh receiver unit.
Aturlah agar sinyal audio yang akan dimodulasi besar level tegangannya tidak
lebih dari 0.1Vpp. Pengaturan ini dapat dilakukan dengan mengatur R1 pada
transmitter unit.
Aplikasi dari sistem carrier ini tidak hanya pada remote speaker tetapi dapat
pula untuk intercom. Untuk sistem yang full stereo atau sistem quadraphonic (4
speaker- 2 rear dan 2 front) maka diperlukan rangkaian transmiter-receiver untuk
tiap-tiap channel yang dinginkan dengan frekuensi carrier yang berbeda.
Perbedaan frekuensi carrier tidak boleh kurang dari 40KHz karena lebar frekuensi
yang diperlukan untuk sistem ini adalah 2x20KHz.
Download Skema Rangkaian
Pemancar
Penerima