Pemancar FM 12 Watt
(Bagian I)
Oleh Dwi Hartanto
Communication is basically the exchange of information
between the two places apart. The information referred to here is the voice
signal, conversation or music.
Voice signals can not be directly emitted as sound signals rather than
electromagnetic waves. If the voice signal is converted into electromagnetic
waves even though the length of the antenna is needed. To be able to send
voice signals more easily then the voice signal is superimposed on the first
radio signals with higher frequencies than the voice signal.
Komunikasi pada dasarnya adalah pertukaran informasi antara
dua tempat yang berjauhan. Informasi yang dimaksud disini adalah sinyal suara,
percakapan atau musik.
Sinyal suara tidak dapat langsung dipancarkan karena sinyal suara bukan
gelombang elektromagnetik. Jika sinyal suara tersebut dirubah menjadi gelombang
elektromagnetik sekalipun maka berapa panjang antena yang dibutuhkan. Untuk
dapat mengirimkan sinyal suara dengan lebih mudah maka sinyal suara tersebut
terlebih dahulu ditumpangkan pada sinyal radio dengan frekuensi yang lebih
tinggi dari sinyal suara tersebut.
Metode untuk menumpangkan sinyal suara pada sinyal radio disebut modulasi.
Modulasi yang sering dipakai adalah modulasi amplitudo (AM – Amplitude
Modulation), modulasi frekuensi (FM – Frequency Modulation) dan modulasi fasa
(PM – Phase Modulation). Metode modulasi lain adalah kombinasi dari tiga metode
modulasi ini.
Penggunaan frekuensi untuk keperluan eksperimen berbeda-beda pada tiap negara.
Di Kanada dan Jepang misalnya, pemancar FM bisa mendapatkan izin dengan syarat
daya pemancar yang digunakan sangat kecil. Di Amerika Serikat pemancar FM tanpa
izin diperbolehkan dengan syarat kuat sinyal yang dihasilkan kurang dari 250uV
terukur 3 meter dari antena. Dengan syarat ini akan didapatkan radius jangkauan
±100 meter. Lain halnya di India,
pemancaran tanpa ijin adalah hal yang ilegal. Di Indonesia sendiri, penggunaan
frekuensi tanpa izin masih ditolerir untuk pemancar SW.
Dengan mengabaikan masalah perizinan, eksperimen dengan pemancar FM selain dapat
menambah ilmu dan pengalaman bisa menjadi kesenangan tersendiri untuk para
pecinta elektronika.
Sistem pemancar FM secara umum terdiri dari bagian-bagian seperti Gambar 1
Gambar 1 Diagram blok sistem pemancar FM
Sumber suara yang dapat digunakan bermacam-macam. Tape, CD-player, mp3-player,
microphone bahkan radio juga dapat dipakai. Segala jenis catu daya juga dapat
dipakai pada sistem pemancar FM asalkan catu daya tersebut bisa menghasilkan
tegangan yang sesuai dan arus yang cukup. Bagaian yang penting dari sistem
pemancar FM adalah antena, saluran transmisi dan pemancar itu sendiri. Pemancar
FM secara umum terdiri dari blok-blok bagian seperti gambar 2
Gambar 2 Diagram blok pemancar FM
Osilator
Inti dari sebuah pemancar adalah osilator. Untuk dapat membangun sistem
komunikasi yang baik harus dimulai dengan osilator yang dapat bekerja dengan
sempurna. Pada sistem komunikasi, osilator menghasilkan gelombang sinus yang
dipakai sebagai sinyal pembawa. Sinyal informasi kemudian ditumpangkan pada
sinyal pembawa dengan proses modulasi.
Osilator dengan frekuensi yang bisa dirubah disebut VFO (Variable Frequency
Oscillator). VFO memiliki kelebihan pada deviasi frekuensinya yang lebar. Untuk
menghasilkan frekuensi 88MHz – 108MHz dapat dipakai VFO. Karena pada VFO dipakai
induktor dan kapasitor sebagai penentu frekuensinya maka kestabilan VFO sangat
tergantung dari kestabilan nilai induktor dan kapasitor. Komponen-komponen pada
VFO yang mudah terpengaruh oleh suhu menyebabkan VFO mempunyai kestabilan yang
rendah.
VFO
yang frekuensinya bisa berubah karena diberi besaran tegangan tertentu pada
inputnya disebut sebagai VCO (Voltage Controlled Oscillator). VCO paling banyak
dipakai pada rangkaian osilator FM karena sinyal suara langsung dapat dimasukkan
pada input VCO. Osilator jenis lain memakai crystal sebagai komponen penentu
frekuensinya. Osilator crystal memiliki kestabilan frekuensi yang sangat tinggi.
Kestabilan yang sangat tinggi ini membuat osilator crystal menjadi sulit untuk
diterapkan pada metode modulasi frekuensi.
Kestabilan frekuensi dari osilator crystal dapat digabungan dengan deviasi
frekuensi VFO yang lebar dengan menerapkan osilator yang terkontrol dengan PLL.
Pada osilator terkontrol PLL, osilator crystal dipakai sebagai penghasil
frekuensi referensi. Dengan demikian akan didapatkan frekuensi referensi yang
sangat stabil. Sedangkan VFO dipakai pada osilator yang sebenarnya.
Penyangga
Semua jenis osilator membutuhkan penyangga. Penyangga berfungsi untuk
menstabilkan frekuensi dan/atau amplitudo osilator akibat dari pembebanan
tingkat selanjutnya. Biasanya penyangga terdiri dari 1 atau 2 tingkat penguat
transistor yang dibias sebagai kelas A.
Dengan penguat kelas A akan didapatkan penguatan dan linearitas yang tinggi
meskipun demikian penguat kelas A memiliki effisiensi yang paling rendah
dibandingkan kelas yang lain. Osilator yang dilengkapi dengan penyangga biasanya
disebut sebagai exciter. Dan exciter sebenarnya sudah bisa dipakai sebagai
pemancar FM dengan daya yang relatif kecil.
Penguat Daya
Sinyal yang didapat dari exciter masih relatif lemah. Untuk mendapatkan daya
yang lebih besar dibutuhkan penguat daya frekuensi radio. Parameter-parameter
yang perlu diperhatikan pada penguat daya frekuensi radio adalah :
·
Bandwidth dan faktor kualitas
Tiap kanal dari pemancar FM stereo membutuhkan bandwidth 75kHz. Sedangkan
bandwidth frekuensi kerja radio FM adalah 20MHz. Frekuensi kerja dari rangkaian
(f) dibandingkan dengan bandwidthnya (Bw) dapat dinyatakan dengan faktor
kualitas (Q).
Q = f / Bw
Rangkaian penguat dengan faktor kualitas yang sangat tinggi sulit sekali dibuat
dan rangkaian cenderung berosilasi. Contoh dari penguat dengan faktor kualitas
tinggi dan memang didesain agar berosilasi adalah osilator.
Biasanya penentuan faktor kualitas penguat didapatkan dari frekuensi tengah dari
frekuensi kerja dibandingkan dengan bandwidth. Sebagai contoh diinginkan penguat
yang bekerja pada frekuensi 88MHz sampai 108MHz. Berarti frekuensi tengahnya
adalah 100MHz. Sedangkan bandwidthnya adalah 20MHz. Dengan demikian dibutuhkan
penguat dengan faktor kualitas
Q = 100MHz / 20MHz = 5
Dengan faktor kualitas penguat yang makin rendah memang akan didapatkan daya
keluaran yang lebih kecil tetapi akan didapatkan kemudahan pada penalaan.
·
Penguatan tiap tingkat dan daya input output tiap tingkat
Transistor dengan daya keluaran besar biasanya membutuhkan daya masukan yang
besar pula. Karena itu penguat dengan daya keluaran besar biasanya dibuat
beberapa tingkat agar didapatkan daya yang cukup untuk menggerakkan transistor
tingkat akhir. Tiap transistor mempunyai penguatan. Untuk transistor dengan daya
keluaran yang kecil biasanya mempunyai penguatan yang besar. Sebaliknya untuk
transistor dengan daya keluaran yang besar penguatannya justru mengecil. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa penguatan dan daya keluaran adalah hal yang
saling bertolak belakang.
·
Impedansi input dan output tiap tingkat
Pada penguat daya frekuensi radio impedansi sumber dan impedansi beban tiap
tingkat harus sama. Dengan demikian semua daya yang dihasilkan sumber akan
diserap seluruhnya oleh beban (terjadi transfer daya maksimal). Keadaan dimana
terjadi kesamaan impedansi dinamakan keadaan match. Jika impedansi yang ada
belum sama maka impedansi tersebut harus disamakan dengan matching network.
·
Linearitas dan Effisiensi
Linearitas dan effisiensi adalah hal yang bertolak belakang. Dengan linearitas
penguat yang tinggi akan didapatkan effisiensi yang rendah. Dan dengan
linearitas penguat yan rendah akan didapatkan effisiensi yang tinggi.
Pada pemancar FM, linearitas dari sinyal tidak begitu berpengaruh karena
informasi dari sinyal FM ada frekuensinya. Lain dengan pemancar AM yang
memerlukan linearitas sinyal yang tinggi karena informasi dari sinyal AM
terletak pada amplitudonya.
Untuk pemancar FM penguat transistor yang dibias sebagai kelas C bisa menjadi
pilihan. Pada penguat kelas C, transistor tidak dibias sama sekali sehingga
transistor akan menghantar hanya pada saat ada separuh gelombang positif pada
basisnya (transistor NPN). Walaupun demikian keluaran penguat kelas C masih
dapat menghasilkan gelombang sinus yang utuh karena adanya induktor pada
kolektor akan menghasilkan setengah gelombang.
Saluran transmisi
Daya yang dihasilkan oleh pemancar akan diradiasikan oleh antena. Saluran
transmisi adalah bagian yang menghantarkan daya yang dihasilkan pemancar ke
antenna. Sebagai bagian yang menghantarkan daya, saluran transmisi yang ideal
tidak akan mengurangi daya yang dihantarkannya dan juga tidak meradiasikan daya
yang menjadi tugas antena.
Pada kenyataannya, saluran transmisi juga mengurangi daya yang disalurkannya.
Daya yang berkurang berubah menjadi panas dan sebagian kecil diradiasikan. Agar
transfer daya terjadi secara maksimal maka saluran transmisi juga harus
mempunyai impedansi karakteristik yang sama dengan sumber dan beban. Impedansi
karaktesistik saluran transmisi yang umum adalah 300W
(kabel pita pada TV hitam putih), 75W (kabel
coaxial pada TV berwarna) dan 50W (kabel
coaxial pada peralatan radio amatir).
Antena
Antena adalah bagian yang paling penting dari sistem pemancar. Antena berfungsi
sebagai alat yang dapat meradiasikan gelombang radio. Sebagai bagian dari sistem
penerima, antena berfungsi sebagai bagian yang dapat menangkap radiasi gelombang
radio. Antena yang ideal akan meradiasikan gelombang radio kesegala arah. Antena
yang ideal disebut sebagai antena isotropis. Sebagai gambaran, jika antena
isotropis diletakkan pada titik pusat dari bola maka antena isotropis akan
mengisi semua ruang yang ada pada bola tersebut dengan radiasi gelombang radio.
Beberapa parameter-parameter pada antena adalah :
·
Polarisasi
Polarisasi dibedakan menjadi polarisasi vertikal dan polarisasi horizontal.
Sebagai gambaran yang sederhana sebuah antena dapat dikatakan mempunyai
polarisasi vertikal jika antena tersebut diletakkan pada posisi vertikal
terhadap bumi. Antena dengan polarisasi vertikal akan menghasilkan gelombang
radio dengan polarisasi vertikal juga.
Untuk dapat menangkap gelombang radio yang mempunyai polarisasi vertikal pada
penerima radio juga dibutuhkan antena dengan polarisasi yang sama.
·
Penguatan antena
Antena adalah komponen yang pasif. Secara harafiah antena tidak mungkin
menguatkan sinyal yang diberikan kepadanya. Penguatan pada antena sebenarnya
adalah seberapa banyak antena tersebut meradiasikan gelombang radio ke arah yang
diinginkan. Sebagai referensi dipakai antena isotropi dengan penguatan 0 dB.
·
Pengarahan
Antena dibedakan menjadi Omnidirectional (segala arah) dan Bidirectional (dua
arah). Antena omnidirectional dapat dikatakan meradiasikan gelombang radio yang
sama kuat ke segala arah.