Pemancar FM 12 Watt
(Bagian II)
Oleh Dwi Hartanto
To be able to
assemble the transmitter that works with both needed SWR Meter, Power Meters,
Dummy Load and Frequency Counter. For the fans of electronics SWR Meter, Power
Meters, Dummy Load and Frequency Counter may be too expensive to buy. However
this equipment can be made yourself with a very low cost. (Making Power Meter
and Dummy Load will be discussed separately in section III).
Untuk dapat merakit pemancar yang bekerja dengan baik diperlukan
SWR Meter, Power Meter, Dummy Load dan Frekuensi Counter. Untuk kalangan
penggemar elektronika SWR Meter, Power Meter, Dummy Load dan Frekuensi Counter
mungkin terlalu mahal untuk dibeli. Meskipun demikian peralatan ini dapat dibuat
sendiri dengan biaya yang sangat murah.
(Pembuatan Power Meter dan Dummy Load akan dibahas secara
terpisah pada bagian III).
SWR Meter & Power
Meter
Pada saluran transmisi yang tidak match selain gelombang datang mengalir pula
gelombang pantul. Gelombang datang arahnya dari sumber ke beban (dari pemancar
ke antena) sedangkan gelombang pantul dari arah yang sebaliknya (dari antena ke
pemancar). Untuk mengukur daya gelombang-gelombang tersebut diperlukan Power
Meter. Biasanya pada Power Meter terdapat dua skala, satu untuk daya datang dan
satu lagi untuk daya pantul, skala untuk daya pantul lebih kecil dari skala daya
datang.
SWR
Meter (Standing Wave Ratio Meter – pengukur perbandingan gelombang tegak)
digunakan untuk mengukur perbandingan gelombang datang dan gelombang pantul.
Dengan kata lain SWR Meter digunakan untuk mengukur seberapa match sebuah sumber
dengan beban. Prinsip kerja SWR Meter didasari Power Meter. Jika pada suatu
pengukuran hanya terdapat Power Meter maka SWR dapat dihitung dari daya datang
(Pf) dan daya pantul (Pr) dengan rumus sebagai berikut :
SWR
= (ÖPf +
ÖPr)/(ÖPf
- ÖPr)
Dari rumus tersebut, pada keadaan match (Pr = 0) akan didapatkan SWR = 1. Untuk
keadaan yang tidak match akan didapatkan SWR > 1. Untuk keadaan yang paling
buruk dimana semua daya datang dipantulkan kembali (Pf = Pr) akan didapatkan SWR
= tak hingga.
Dummy Load
Agar daya bisa dipancarkan semaksimal mungkin, impedansi output dari penguat
daya tingkat akhir harus sama dengan impedansi karakteristik saluran transmisi
dan impedansi dari antena. Untuk itu diperlukan penalaan pada matching network
untuk menyamakan impedansi.
Impedansi dari antena sangat tergantung pada frekuensi. Sedangkan impendasi dari
saluran transmisi sama dengan impedansi karakteristik saluran jika panjang
saluran transmisi tersebut adalah tak terhingga. Sehingga antena dan saluran
transmisi tidak dapat dipakai sebagai acuan untuk menala matching network.
Sebagai gantinya diperlukan sebuah beban yang diketahui impedansinya dengan
pasti sebagai acuan (Dummy Load), yang harus bebas dari pengaruh frekuensi dan
dapat menangani pembuangan daya yang besar (merubah semua daya datang menjadi
panas). Impedansi Dummy Load biasanya 50 atau 75 Ohm. Induktor dan kapasitor
adalah komponen yang memiliki impedansi yang tergantung frekuensi. Resistor
murni tidak terpengaruh frekuensi, meskipun pada kenyataannya resistor tidak
hanya bersifat resistif tetapi mempunyai sifat induktif dan kapasitif parasit
meskipun kecil.
Dummy Load dapat dibuat sendiri dengan memasang paralel beberapa resistor
sehingga didapatkan resistansi dan daya yang diinginkan. Resistor karbon dan
resistor film mempunyai induktor parasit yang minimal sehingga banyak dipakai
untuk membuat dummy load. Resistor karbon harganya lebih murah dan bisa
didapatkan dengan daya lebih besar dibandingkan resistor film.
Memparalelkan beberapa resistor, selain untuk mendapatkan daya besar, dimaksud
pula memperkecil induktansi liar dari resistor-resistor tersebut. Sebagai contoh
dapat dipakai resistor karbon 300 Ohm / 2 Watt sebayak 6 biji yang dibubungkan
secara paralel, untuk mendapatkan Dummy Load dengan daya 12 Watt dan impedansi
50 Ohm (gambar 3).
Gambar 3 Skema Dummy Load
Frekuensi Counter
Frekuensi Counter adalah sebuah alat untuk mengetahui besarnya frekuensi dari
sebuah sinyal. Frekuensi Counter sifatnya hanya tambahan
dan dapat digantikan dengan radio penerima biasa. Untuk hasil yang lebih
baik dapat dipakai radio dengan tuning digital.
Pemancar FM 12 Watt
Pemancar FM yang dibahas pada artikel ini adalah modifikasi dari rangkaian
Pemancar FM yang ada di pasaran (tipe S-083 dari Saturn). Rangkaian S-083 hanya
menghasilkan daya kurang lebih 1 Watt. Dengan sedikit modifikasi, penyederhanaan
dan penambahan booster akan didapatkan daya akhir 12 Watt. Rangkaian S-083
terdiri atas 3 bagian, yaknik bagian osilator, Penyangga tingkat pertama (Buffer
1) dan Penyangga tingkat kedua (buffer 2), lihat di Gambar 4 (Komponen yang
diberi tanda * adalah bagian yang dimodifikasi )..
Setelah dicoba, osilator S-083 hasilnya cukup memuaskan, selain stabil osilator
tersebut menghasilkan sinyal yang kuat. Karena itu bagian osilator dipakai tanpa
modifikasi. Transistor di Tingkat penyangga pertama (Buffer 1) yang semula
menggunakan C2053, diganti dengan transistor C930, tipe dengan harga yang jauh
lebih murah dan mudah diperoleh dipasaran. Untuk keperluan itu nilai R6 diganti
menjadi 10K, untuk memberi bias yang sesuai bagi transistor C930.
Kapasitor 33pF pada kaki kolektor transistor penyangga diganti dengan trimmer C8
bernilai 5-60pF untuk mempermudah penalaan. Transistor di Tingkat penyangga
kedua (Buffer 2) yang semula C710 diganti pula dengan C930, dan kapastor pada
kolektornya juga diganti dengan trimmer C11 bernilai 5-60 pF. Pada keluaran
tingkat kedua diberi tambahan induktor dan kapasitor yang berfungsi sebagai
penyesuai impedansi, sehingga Impedansi keluaran dari penyangga tingkat akhir
yang kurang lebih 380 Ohm dirubah menjadi 50 Ohm.
Gambar 4 Skema rangkaian Exciter
Saat merakit sebaiknya jangan tergesa-gesa dengan
mengerjakan langsung secara keseluruhan, tapi
kerjakan tiap bagian agar adanya kesalahan dapat diketahui lebih awal.
Bagian pertama yang dikerjakan adalah osilator,
setelah selesai dirakit dapat langsung dicoba, dengan cara menyalakan radio FM
pada gelombang yang kosong dan atur volume radio
sehingga suara desis terdengar jelas (akan lebih mudah jika dipakai radio yang
mempunyai indikator tuning). Putar inti dari koker (L1) kekanan sampai maksimal.
(Dengan memutar koker kekanan frekuensi yang dihasilkan osilator makin rendah.)
Nyalakan pemancar FM, putar inti koker kekiri sampai desis pada radio FM hilang
atau sampai indikator tuning menyala. Jika didapatkan sinyal yang kuat dan
stabil, osilator dari pemancar ini telah bekerja dengan baik.
Bagian selanjutnya dapat mulai dirakit, setelah selesai dirakit, hubungkan
rangkaian exciter (Gambar 4) seperti diagram Gambar 5. Nyalakan catu daya dan
putar kedua trimmer (C8 dan C11) pada penyangga secara bergantian sampai
didapatkan daya paling besar dan SWR paling kecil. Kalau rangkaian exciter
bekerja dengan baik, akan didapatkan daya kurang lebih 0,25 Watt.
Gambar 5 Diagram blok pengetesan exciter
Sampai tahap ini exciter sudah siap pakai. Untuk mendapatkan daya yang lebih
besar lagi dapat dapat ditambahkan rangkaian booster 12 Watt, sehingga akan
jarak jangkauan pancaran meningkat sampai 7 kali lipat.
Gambar 6 Skema rangkaian booster
Rangkaian booster 12 Watt pada Gambar 6, terdiri dari dua tingkat penguat
transistor yang masing-masing bekerja pada kelas C, masomg-masing input dan
output penguat transistor ini diberi rangkaian penyesuai impedansi.
Penguatan tingkat pertama memakai transistor C1970. Rangkaian Penguatan ini
mempunyai penguatan daya 9,2dB (8 kali), sehingga dari exciter berdaya 0,25 W
seharusnya bisa dihasilkan daya 2 W. Pada kenyataannya dari keluaran penguatan
tingkat pertama ini hanya menghasilkan daya 1,75 Watt, hal ini disebabkan adanya
kerugian dari rangkaian matching network.
Penguatan tingkat kedua memakai transistor C1971. Rangkaian Penguat ini
mempunyai penguatan daya 10dB (10 kali). Sehingga daya dari tingkat pertama yang
1,75 W bisa diperkuat menjadi 17,5 W. Pada kenyataannya daya dari penguatan
tingkat kedua hanya mencapai 12,5 Watt. Hal ini disebabkan adanya kerugian dari
rangkaian matching network dan keterbatasan dari transistor C1971.
Karena panas yang dihasilkan kedua transistor cukup besar maka jangan lupa
memasang pendinginan yang cukup.
Setelah booster selesai dirangkai selanjutnya booster dapat dicoba dan ditala,
dengan merangkai exciter, booster, SWR & Power Meter dan Dummy Load seperti
Gambar 7. Sebelum catu daya dinyalakan, semua trimmer pada booster diputar pada
posisi tengah. Pastikan catu daya yang dipakai dapat memberikan arus lebih dari
3 Ampere. Amati power meter. Power meter seharusnya menunjukkan daya beberapa
watt. Putar trimmer pada booster dimulai dari bagian input sampai didapatkan
daya paling besar. Ulangi beberapa kali. Seharusnya akan didapatkan daya sampai
12W.
Gambar 7 Diagram blok pengetesan booster
Dari pengukuran didapatkan kebutuhan arus adalah 2,2 Ampere dan daya maksimal
yang dapat dicapai adalah 12,5 Watt. Daya yang terlalu besar tentu saja akan
memperpendek umur transistor tingkat akhir. Untuk itu disarankan untuk
menurunkan daya keluaran dengan menurunkan tegangan supply menjadi 12 Volt.