Motor
Stepper : Tipe dan Rangkaian Kontrol
(Bagian 2)
Oleh Susanto Wibisiono Koselan
Stepper motor bukanlah barang baru di dalam dunia komputer.
Bahkan hampir sebagian besar disk drive atau CDROM
menggunakan stepper motor untuk memutar disk.
Penggunaannya juga cukup sederhana dan mudah digunakan untuk
aplikasi-aplikasi tertentu yang tidak terlalu membutuhkan torsi yang besar.
Rangkaian kontrol untuk setiap tipe motor stepper mempunyai kemiripan yaitu
dalam hal aktivasinya. Namun yang paling membedakan adalah
dalam hal urutan pemberian data aktivasi setiap lilitan pada motor stepper.
Motor stepper merupakan motor listrik yang tidak mempunyai komutator, di mana
semua lilitannya merupakan bagian dari stator. Dan pada
rotornya hanya merupakan magnet permanen. Semua komutasi setiap lilitan
harus di kontrol secara eksternal sehingga motor stepper ini dapat dikontrol
sehingga dapat berhenti pada posisi yang diinginkan atau bahkan berputar ke arah
yang berlawanan.
Pada bagaian ini akan dibahas mengenai bagaian
terakhir dari rangkaian penggerak motor stepper. Rangkaian
ini pada dasarnya hanya merupakan rangkaian switching arus yang mengaliri
lilitan pada motor stepper. Urutan pemberian data pada motor stepper ini
dapat mengontrol arah putaran dari motor stepper ini. Penambahan kecepatan pada
motor stepper dapat dilakukan dengan cara
meningkatkan frekuensi pemberian data pada rangkaian switching arus.
Rangkaian kontrol ini nantinya terhubung langsung dengan lilitan pada motor,
rangkaian power supplai, dan rangkaian yang dikontrol secara digital yang pada
akhirnya menentukan kapan lilitan yang diinginkan dalam kondisi off atau on.
Selain hanya menggunakan transistor switching ar,
saat ini sudah tersedia driver motor yang memang diperuntukkan bagi motor
stepper, yang lebih dikenal dengan H-Bridge. Komponen ini
biasanya digunakan pada motor stepper tipe bipolar, walaupun demikian
tidak menutup kemungkinan digunakan pada motor stepper tipe yang lain.
Rangkaian Driver Variabel Reluctance Motor
Gambar 1Kontrol Pada Varibel Reluctance Motor Stepper
Di dalam gambar 1 tersebut terdapat sebuah 3 blok
dimana masing-masing mengatur sebuah kumparan motor stepper.
Blok tersebut terdiri dari saklar arus yang dikontrol secara digital.
Blok ini berperan penting di dalam pengontrolan arus yang
akan melewati kumparan motor tertentu. Pengontrollan
blok ini dapat dilakukan oleh sebuah rangkaian digital sederhana atau
bahkan sebuah komputer melalui printer port. Dengan menggunakan komputer maka
diperlukan perangkat lunak yang nantinya akan
mengatur pemberian data dengan suatu urut-urutan tertentu kepada komponen saklar
di dalam blok.
Kumparan pada motor stepper mempunyai karakteristik yang
sama dengan karakteristik beban induktif lainnya.
Oleh sebab itu ketika terdapat arus yang melalui kumparan motor, tidak dapat
dimatikan dengan seketika tanpa menghasilkan tegangan transien yang sangat
tinggi. Kondisi ini biasanya nampak dengan timbulnya percikan bunga
api (ketika menggunakan motor DC dengan daya yang
besar). Hal ini sangat tidak diinginkan karena dapat merusak
saklar sehingga perlu diberikan rangkaian tambahan untuk membatasi tegangan
transien yang muncul. Sebaliknya ketika saklar tertutup maka terdapat
arus yang mengalir ke kumparan motor dan akan
menghasilkan kenaikan tegangan secara perlahan.
Untuk membatasi tegangan spike yang muncul maka ada dua alternatif
penyelesaiannya yaitu dengan memparalel pada kumparan motor dengan dioda dan
alternatif yang kedua adalah dengan menggunakan kapasitor yang dipasang paralel
dengan kumparan motor stepper.
Gambar 2 Spike Voltage Reducer
Diode yang yang terpasang paralel tersebut harus mampu
melewatkan arus balik yang terjadi ketika saklar terbuka.
Dioda yang digunakan dapat berupa dioda yang umum dipakai
seperti 1N4001 atau 1N4002. Jika digunakan dioda yang
mempunyai karakteristik ‘fast switch’ maka perlu diberikan penambahan
kapasitor yang dipasang secara paralel pada dioda.
Pemasangan kapasitor paralel dengan kumparan motor dapat menyebabkan spike yang
ditimbulkan akan menyebabkan kapasitor tersebut
charge sehingga tegangan spike yang terjadi tidak akan keluar tetapi diredam
oleh kapasitor ini. Tetapi yang paling penting adalah
kapasitor ini harus mampu menahan surge current pada saat terjadi spike.
Surge current adalah arus tiba-tiba yang sangat besar
yang muncul bersamaan dengan tegangan spike. Nilai
kapasitor harus dipilih pada kondisi dimana nilai induktansi dari kumparan motor
stepper paling besar. Inilah karakteristik motor stepper dengan tipe
variabel reluctance dimana nilai induktansinya berubah-ubah tergantung dari
sudut putaran pada poros rotor. Penambahan kapasitor
sehingga tepat akan membentuk sebuah rangkaian
resonansi yang dapat menyebabkan peningkatan torsi pada motor dengan tipe ini.
Rangkaian Driver Unipolar Permanent Magnet and Hybrid Motor
Gambar 3 Kontrol Pada Unipolar Permanent Magnet Motor
Rangkaian kontrol untuk mengendalikan motor stepper dengan tipe unipolar ini
hampira sama dengan rangkaian kontrol pada motor tipe
variabel reluctance. Perbedaanya hanya pada struktur
kumparan motornya saja.
Gambar 4 Spike Voltage Reducer untuk Unipolar Stepper Motor
Walaupun demikian karena bebanya merupakan beban induktif maka selalu ada
tegangan spike yang muncul ketika saklar terbuka. Oleh sebab itu perlu
penambahan dioda yang terpasang paralel dengan kumparan motor stepper seperti
terlihat pada gambar 4.
Dua buah dioda tambahan diperlukan karena kumparan
motor bukanlah kumparan yang independen tetapi sebuah kumparan yang mempunyai
tap di tengah-tengah kumparan seperti struktur pada autotransformer. Ketika
salah satu saklar dibuka maka tegangan spike muncul di kedua ujung kumparan
motor tersebut dan di clamp oleh dua buah dioda ke supplay motor. Tetapi
jika salah satu ujung kumparan motor tersebut tidak floating terhadap
supplai motor maka tegangan spike ini akan lebih
negatif daripada referensi ground. Jika saklar yang digunakan berupa relay,
kondisi ini bukan menjadi masalah. Kondisi ini baru menjadi
masalah ketika saklar yang digunakan adalah saklar semikonduktor seperti
transistor atau FET.
Untuk membatasi level tegangan spike dapat pula
digunakan kapasitor yang terpasang seperti pada gambar 5.
Gambar 5 Pemberian Kapasitor Pembatas Tegangan Spike
Rangkaian Praktis Pengendali Motor Stepper
Jika rangkaian kontrol yang mengendalikan rangakaian motor driver ini berupa
mikrokontroller atau komponen digital maka ada baiknya agar setiap port yang
mengontrol rangkaian driver motor stepper ini diberi buffer terlebih dahulu agar
tidak membebani port mikrokontroller yang digunakan. Seperti pada gambar 3, pin
control_0, control_1, control_2 dan control_3 ini dapat dikontrol secara digital
dengan menggunakan mikrokontroller dengan memberi komponen yang berfungsi
sebagai buffer seperti pada gambar 6.
Gambar 6 Rangkaian Sederhana Penggerak Motor Stepper
Pada gambar 6 hanya ditampilkan satu bagian untuk mengontrol
satu buah kumparan motor stepper. Ada dua alternatif yaitu dengan
menggunakan buffer terlebuh dahulu atau menggunakan FET, yang mempunyai
impedansi input yang sangat tinggi, sebagai komponen saklarnya. Tegangan Vmotor
tidaklah harus selalu sama dengan tegangan VCC pada
mikrokontroller. Oleh sebab itu digunakan sebuah komponen buffer yang mempunyai
output open collector sehingga outputnya dapat di pull-up ke
tegangan yang diinginkan.
Untuk dasar pemilihan transistornya adalah pada
karakteristik IC (arus kolektor). Transistor ini harus
merupakan transistor power yang mampu melewatkan arus sesuai dengan arus yang
diperlukan oleh kumparan motor stepper ini. Jika arus yang ditarik oleh kumparan
motor stepper ternyata lebih besar daripada kemampuan transistor maka transistor
akan cepat panas dan dapat menyebabkan rusaknya
transistor tersebut.
R pull-up sebesar
470 akan memberikan arus sebesar 10 mA ke basis transistor Q1. Jika Q1 mempunyai
gain sebesar 1000 maka arus yang dapat diliewatkan
adalah sekitar beberapa ampere, tergantung dari besar arus yang ditarik oleh
kumparan motor stepper tersebut. Arus ini harus lebih kecil
dari arus IC yang diperbolehkan.
Untuk komponen FET dapat digunakan komponen IRL540 yang
dapat mengalirkan arus sampai 20 A dan mampu menahan tegangan balik sampai 100V.
Hal ini disebabkan oleh karena FET ini mampu menyerap tegangan spike tanpa
perlindungan dioda. Tetapi komponen ini memerlukan heat
sink yang besar dan harus
cukup baik dalam hal penyerapan panasnya. Ada baiknya jika digunakan kapasitor
untuk menekan level tegangan spike yang ditimbulkan dari transisi saklar dari on
ke off.