Pengendali Jarak Jauh Menggunakan
Jaringan Listrik
Oleh Susanto
Wibisono Koselan
Perkembangan teknologi saat ini banyak memberikan kemudahan
kepada kita untuk melakukan berbagai aktivitas mulai dari hal-hal yang mudah
sampai yang rumit sekalipun. Hal ini nampak pada kecenderungan penggunakan
‘remote’ pada televisi. Remote televisi pada tahun 1990-an hanya digunakan pada
televisi yang berukuran besar saja dan saat ini hampir semua televisi 14 inch
saja menggunakan remote.
Hal
ini jelas menunjukkan bahwa saat ini terdapat kecenderungan untuk melakukan
berbagai aktivitas pengontrollan jarak jauh dan hal ini akan semakin populer
pada berbagai aplikasi konsumen.
Pengontrollan jarak jauh , saat ini, yang populer digunakan adalah remote
control dengan menggunakan infra merah, seperti pada remote control pada
televisi. Infra merah cukup efektif digunakan jika alat yang dikontrol terdapat
pada lokasi yang sama dan tidak terlalu jauh (kurang lebih 10 meter dan tidak
ada penghalang).
Infra
merah tidak dapat digunakan lagi jika perlatan yang ingin dikontrol ternyata
berada dibalik dinding beton. Bagaiman meyiasati hal ini? Dengan menggunakan
kabel misalnya. Solusi ini cukup efektif tetapi dari segi biaya tidaklah
menguntungkan. Jika terdapat sepuluh peralatan yang akan dikontrol dan semuanya
terletak di dalam ruangan yang berbeda-beda maka jumlah panjang kabel yang
digunakan akan semakin banyak lagi. Hal ini jelas tidak menguntungkan. Terlalu
banyak biaya yang terbuang untuk kabel saja.
Untuk
itu diupayakan untuk membuat rangkaian yan mampu melakukan pengendalian jarak
jauh tanpa menggunakan kabel tambahan tetapi dengan menggunakan kabel listrik/
jala-jala listrik PLN.
Pembuatan rangkaian ini sebetulnya cukup sederhana namun diperlukan perhatian
ekstra karena disini tegangan PLN 220 volt cukup untuk membuat seseorang
meninggal dunia.
Jika
diasumsikan disemua ruangan terdapat aliran listrik, maka disemua ruangan
tersebut dapat dilakukan pengontrollan pada berbagai perlatan yang diinginkan
seperti menyalakan/mematikan televisi, lampu taman, atau membuka/menutup pintu
garasi
Rangkaian Pemancar
Rangkaian pemancar pada alat ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu hanya
membangkitkan sinyal 36KHz dan menumpangkan sinyal 36 KHz ini di atas tegangan
listrik 220 volt. Pada bagian pemancar ini tidak membutuhkan banyak suplai
sehingga tidaklah perlu dibuat power suplai sendiri sehingga power suplainya
dibuat tanpa transformator penurun tegangan.
Rangakaian pemancar ini terdiri dari 3 blok utama, yaitu :
·
Control, berupa tombol untuk mengontrol dikirm atau tidak sinyal
36KHz-nya.
·
Oscilator, yang membangkitkan sinyal 36KHz pada level tegangan
tertentu terdiri dari sebuah OpAmp.
·
Power suplai tanpa transformator, yang menghasilkan tegangan
suplai DC 20 volt.
Gambar 1 Blok Diagram Pengendali Jarak Jauh
Blok Power Suplai Pemancar
Gambar 2 Rangkaian Power Suplai
Pada
bagian power suplai ini dibentuk dari fullwave rectifier dengan 2 dioda
D1 dan D2. Output dari bagian ini masih belum rata dan perlu di filter. Untuk
filter dapat digunakan sebuah kapasitor 220uF, nilai kapasitor yang lebih besar
lebih baik karena ripple akan semakin kecil.
Dioda
yang digunakan adalah 1N4007 karena dioda ini mampu menahan tegangan balik
sebesar (tipikal) 1000 volt. Jika menggunakan transformator penurun tegangan ke
20 volt maka cukup digunakan dioda 1N4001 atau 1N4002 saja.
Untuk
menentukan tegangan output menjadi 20 volt dapat digunakan dioda zener 20 volt.
Jika tidak terdapat dioda zener 20 volt dapat digunakan doida zener 10 volt 2
buah yang diserikan.
Blok Oscilator dan OpAmp
Gambar 3 Rangkaian Osilator dengan LM741
Pada
blok ini dibangkitkan sinyal 36KHz dan menguatkan sinyal ini sampai kira-kira 10
mVpp. Osilator dibentuk dari rangkaian opamp dengan rangkaian resistor dan
kapasitor.
Untuk
mengontrol kapan sinyal 36KHz ditumpangkan ke jala-jala PLN digunakan tombol
SW1. Pada saat tombol SW1 ditekan maka sinyal 36KHz akan ditumpangkan ke
jala-jala PLN dan pada saat tombol SW1 dilepas maka sinyal 36KHz tidak
ditumpangkan pada jala-jala PLN.
Bagian Penerima
Pada
bagain penerima, pada power suplainya menggunakan transformator penurun tegangan
karena pada rangkaian penerima membutuhkan suplai yang besar. Hal ini disebabkan
oleh karena pada rangkaian penerima ini terdapat sebuah relay. Sebuah relay
paling tidak membutuhkan arus 30mA dan arus sebesar ini tidak mungkin didapatkan
dari sebuah power suplai tanpa transformator penurun tegangan.
Blok Filter

Gambar 4 Blok Diagram Rangkaian Penerima
Gambar 5 Rangkaian Filter Pada 36KHz
Output
dari rangkaian ini diumpankan pada sebuah opamp untuk menguatkan sinyal 36KHz
tersebut dan output dari opamp diumpankan pada sebuah transistor untuk
menggerakan relay. Potensio R10 digunakan untuk menentukan toleransi dari
frekuensi sinyal 36KHz.
Blok Power Suplai Penerima
Gambar 6 Rangkaian Power Suplai
Blok Control dan Relay
Pada
bagian ini output sinyal dari opamp merupakan sinyal 36KHz yang sudah dikuatkan
dan amplitudo tegangannya maksimal adalah 8Vpp. Besarnya sinyal ini tergantung
dari besarnya gain pada opamp dan besarnya sinyal input 36KHz.
Karena
sinyal 36KHz akan digunakan untu mengontrol relay maka komponen frekuensi
tingginya dibuanan dengan menggunakan filter RC orde satu.
Gambar 7 Filter RC Orde 1
Output
dari filter tersebut sudah berupa tegangan DC yang sudah rata dan dapat langsung
mengontrol sebuah relay melalui sebuah transistor switching.