KENDALI JARAK JAUH LEWAT TELEPON
Oleh: Budhy Sutanto
Peralatan listrik di rumah bisa dihidup/matikan
lewat perintah yang dikirim lewat saluran telepon, sarana menarik ini dengan
mudah bisa dibuat dan ditambahkan pada pesawat telepon.
Alat Kendali Jarak Jauh yang rangkaiannya terlihat
dalam Gambar 1, dipasangkan secara paralel ke saluran telepon rumah, sehingga
alat ini bisa memantau sinyal-sinyal pada saluran telepon tersebut.Saat ada
panggilan ke pesawat telepon yang dipasang paralel dengan alat ini, alat ini
memantau dering telepon, jika sampai deringan ke 8 pesawat belum diangkat, maka
alat ini akan mengangkat gagang pesawat.
Selanjutnya alat ini akan memantau nada-nada yang
dikirim telepon lawan. Sebelum memerintah alat ini untuk menghidup/matikan
peralatan listrik yang perlu dikendalikan, pemakai harus mengirimkan kode
kunci (pass word) dengan cara menekan tombol-tombol tertentu pada pesawat
telepon lawan. Setelah kode kunci diterima dengan benar, selanjutnya alat
ini siap menerima perintah-perintah untuk menghidup/matikan peralatan listrik
yang dikehendaki.
Alat ini dibangun dengan mikrokonrtoler AT89C2051,
setelah dipakai untuk keperluan hubungan dengan saluran telepon masih tersedia 8
kaki AT89C2051 yang bisa dipakai untuk mengendalikan peralatan listrik.
Peralatan listrik itu dinomori dengan angka 1
sampai 8,
tombol #
dipakai untuk perintah menghidupkan peralatan listrik, sedangkan tombol *
dipakai untuk mematikan peralatan listrik. Dengan demikian kombinasi tombol 1#
berarti perintah untuk menghidupkan alat listrik nomor 1, kombinasi tombol 8*
berarti perintah untuk mematikan alat listrik nomor 8.
Tombol 0
dipakai untuk mematikan semua alat listrik sekali gus, dan tombol 9
dipakai untuk menghidupkan semua alat listrik sekali gus.
Pembahasan rangkaian
Rangkaian ini menggunakan rangkaian baku AT89C2051
yang dilengkapi dengan osilator kristal (kapasitor
C1,
C3
dan kristal Y1)
dan rangkaian reset (kapasitor
C5
dan resistor R4),
seperti rangkaian-rangkaian dengan AT89C2051 lainnya.
Hubungan dengan saluran telepon terdiri dari 3
bagian, sebagai berikut:
·
rangkaian pemantau nada dering, terdiri dari
kapasitor C6,
bridge diode D3,
diode Zener D2,
opto
isolator
ISO2
dan resistor R10.
·
rangkaian pengangkat gagang telepon,
terdiri dari resistor R7,
transistor Q1,
diode D1,
relay K1
dan
resistor
R5
·
rangkaian pemantau nada DTMF, terdiri dari
IC U2,
kristal Y2,
kapasitor C2
dan C4,
resistor R1
dan R3
Untuk mengendalikan peralatan listrik, bisa dipakai
berbagai macam rangkaian, yang penting adalah rangkaian-rangkaian tersebut harus
bisa mengisolasi tegangan AC 220 Volt PLN (yang dipakai peralatan listrik)
dengan bagian lain dari rangkaian alat ini.
Jenis pertama rangkaian ini
menggunakan relay, terdiri dari resistor
R9,
transistor Q3,
diode D4
dan relay K2.
Untuk menghidupkan peralatan listrik dengan rangkaian ini, port pengendali dari
AT89C2051 harus =1.
Rangkaian berikutnya
menggunakan opto DIAC ISO1
sebagai komponen isolasi untuk menyalakan TRIAC
Q2,
resistor R6
berfungsi sebagai pembatas arus ke
LED
di dalam ISO1
dan resistor R8
sebagai pembatas arus gate
Q2. Untuk menghidupkan peralatan listrik
dengan rangkaian ini, port pengendali dari AT89C2051 harus =0.
Dalam
kedua contoh rangkaian di atas, LAMPU
LP1
dan LP2
mewakili peralatan listrik yang dikendalikan. Dalam pemakaian yang sesungguhnya
lampu-lampu ini digantikan dengan peralatan listrik apa saja, asalkan kapasitas
relay atau TRIAC disesuaikan dengan kapasitas peralatan yang dikendalikan.

Gambar 1 Rangkaian
Pengendali Jarak Jauh lewat Saluran Telepon
Pemantau Nada dering
Nada dering dari saluran telepon, merupakan sinyal
dengan frekuensi 20 sampai 40 Hertz yang dikirim selama 1 detik kemudian sinyal
ini terhenti selama 3 detik. Amplitudo sinyal dering bisa mencapai diatas 90
Volt.
Kapasitor
C6
dalam rangkaian ini berfungsi untuk menahan tegangan searah yang ada dalam
saluran telepon dan hanya meneruskan sinyal dering saja. Mengingat amplitudo
dari sinyal dering bisa sampai 90 Volt, maka kapasitor
C6
dan C4
(bagian pemantau nada DTMF) setidaknya harus mampu menahan tegangan lebih dari
100 Volt.
Untuk membedakan nada dering dengan suara
pembicaraan yang ada dalam saluran telepon, pada rangkaian ini dipasang diode
Zener D1,
dengan demikian hanya tegangan yang amplitudonya lebih dari 12 Volt yang bisa
lewat, sehingga suara pembicaraan yang amplitudonya hanya beberapa Volt tidak
akan bisa diteruskan ke optoisolator
ISO2.
Resistor
R10
membatasi arus yang mengalir pada diode
ISO2.
Karena amplitudo nada dering cukup tinggi, resistor ini nilainya cukup besar,
sampai 10 Kilo Ohm.
Sinyal dering akan mengakibatnya denyut arus pada
LED
dalam ISO2
dengan frekuensi 20 sampai 40 Hertz, pada gilirannya akan mengakibatkan opto
transistor dalam ISO2
on/off seirama dengan arus yang mengalir pada
LED
tersebut.
Kolektor dari opto isolator di dalam
ISO2
dihubungkan ke kaki INT0
(kaki nomor 6 AT89C2051), pada kolektor ini tidak diperlukan lagi resistor yang
dihubungkan ke Vcc, mengingat tahanan semacam itu sudah ada di dalam chip
AT89C2051. Keadaan On/Off dari opto transistor akan mengakibatkan kaki
INT0
menjadi 0/1,
saat tidak ada nada dering
INT0 dalam keadaan 1,
dan saat bel berbunyi selama 1 detik kaki
INT0
akan berubah 0/1
sebanyak 10 sampai 20 kali, tergantung pada frekuensi dana dering yang berkisar
antara 20 sampai 40 Hertz.
Sinyal pada kaki
INT0
ini diterima AT89C2051 sebagai sinyal permintaan layanan interupsi, tapi
mengingat satu nada dering bisa terdiri dari 10 sampai 20 pulsa maka hanya
perubahan 1
ke 0
yang pertama saja yang boleh dianggap sebagai sinyal interupsi.
Dari segi teknik pemrograman, hal ini bisa
diselesaikan dengan cara berikut:
·
dalam keadaan menunggu panggilan telepon,
sarana interupsi INT0
diaktipkan
·
pada rutin layanan interupsi
INT0
(ISR
- Interrupt Service Routine) sarana interupsi
INT0
di-non-aktipkan,
dengan demikian setelah permintaan interupsi dilayani, pulsa-pulsa berikutnya pada
dering bersangkutan
tidak akan ditanggapi
AT89C2051 sebagai permintaan interupsi.
·
pada rutin layanan interupsi
INT0
di atas, di-aktip-kan sistem timer dengan periode 2 detik, yakni satu
periode
waktu dimana dering pertama sudah selesai dan dering kedua belum terjadi.
·
lewat dari waktu 2 detik tersebut, sarana
interupsi INT0
diaktipkan kembali, agar AT89C2051 bisa
melayani dan menghitung nada dering berikutnya.
Selain dari hal tersebut di atas, masih diperlukan
lagi sebuah timer yang lain. Timer yang satu ini periodenya sekitar 8 detik,
yakni waktu yang diperlukan untuk dua kali dering. Jika dalam periode waktu itu
tidak ada nada dering yang diterima lagi, maka alat ini akan menganggap gagang
telepon sudah diangkat sehingga tidak perlu memantau lebih lanjut, dan program
menunggu panggilan telepon lagi.
Pengangkat gagang telepon
Saluran telepon hanya terdiri dari 2 utas kabel,
meskipun demikian pada saluran ini disalurkan suara pembicaraan yang dua arah,
nada dering dan juga sumber tegangan searah yang dikirim kantor telepon agar
pesawat telepon bisa bekerja.
Saat pesawat telepon bekerja, pesawat akan
mengambil arus listrik dari saluran telepon setelah gagang telepon diangkat.
Impedansi pesawat telepon sebesar lebih kurang 600 Ohm, dengan demikian
pengangkatan gagang telepon bisa disimulasikan dengan menghubungkan resistor
dengan nilai sekitar 600 Ohm pada saluran telepon.
Hal ini dilakukan dengan menghubungkan resistor
R5
ke saluran telepon dengan bantuan relay
K1.
Pada saat kaki P1.5
(kaki 17 pada AT89C2051) dalam keadaan 1,
transistor Q1
akan on, kontak dari relay
K1
akan menghubungkan R5
ke ground, sehingga R5
terpasang paralel pada saluran telepon, akibatnya rangkaian di kantor telepon
akan merasakan gagang pesawat telepon di angkat.
Pemantau Nada DTMF
Untuk memantau nada DTMF, dipakai IC
MT8870
yang memang dirancang khusus untuk keperluan tersebut, pembahasan kerja
MT8870
secara panjang lebar bisa dilihat pada artikel
Dual Tone Multiple Frequency, dan contoh pemakaiannya bisa diikuti lewat
artikel
Anti Interlokal & Pemantau nada DTMF.
Setiap kali
MT8870
menerima nada DTMF baru, kaki
SID
(kaki 15 MT8870) akan menjadi 1,
keadaan kaki ini dipantau AT89C2051 lewat kaki
P1.4
(kaki 16 AT89C2051). Kode angka DTMF yang diterima
MT8870
diterima AT89C2051 lewat kaki
P1.0
sampai P1.3
(kaki 12 sampai 15 AT89C2051).
Di samping itu, jika dalam waktu 15 detik tidak ada
nada DTMF yang diterima, dianggap pemakai alat ini sudah mengakhiri
perintah-perintah yang dikirim.
Dengan demikian pemantauan nada DTMF bisa dilakukan
dengan menunggu P1.4
menjadi 1,
jika tidak ada nada DTMF yang diterima, maka dipantau pula apakah selang waktu
15 detik sudah lewat.
Kode kunci yang disebut di bagian atas, merupakan
kode 4 angka yang diterima dari
MT8870.
Kode ini dibandingkan dengan kode yang sudah ditentukan di dalam program, jika
ternyata sesuai maka proses berikutnya diteruskan, jika tidak gagang telepon
diletakkan kembali dan proses selesai.
Berikutnya alat ini akan menerima perintah-perintah
yang sudah dibahas di atas, perintah-perintah itu diakhir dengan kombinasi
tombol ##
atau **.
Setelah menerima kombinasi tombol ini gagang telepon diletakkan kembali dan
proses selesai.
Program