|
Penggunaan
Electronic Ballast Untuk Lampu Fluorescent
Susanto Wibisono K
Lampu fluorescent lebih dikenal
sebagai lampu TL. Lampu penerangan jenis ini lebih
banyak dipakai karena daya yang dipakai relatif lebih kecil jika
dibandingkan dengan lampu bolam. Selain itu lampu TL
juga lebih dingin daripada lampu bolam dengan pemakain daya yang sama.
Penggunaan lampu fluorescent, dan
selanjutnya disebut lampu TL ini penggunaannya sudah sangat luas dan sangat
umum baik untuk penerangan rumah ataupun penerangan pada industri-industri.
Keuntungan dari lmapu TL ini, seperti yang telah disebutkan di atas
adalah menghasilkan cahaya output per watt daya yang digunakan lebih tinggi
daripada lampu bolam biasa (incandescent lamp).
Sebagai contoh, sebuah penelitian
menunjukkan bahwa 32 watt lampu TL akan mengjasilkan cahaya sebesar 1700
lumens pada jarak 1 meter sedangkan 75 watt lampu bolam biasa (lampu bolam
dengan filamen tungsten) menghasilkan 1200 lumens. Atau
dengan kata lain perbandingan effisiensi lampu TL dan lampu bolam adalah 53
: 16. Effiesiensi disini didefinisikan sebagai
intensitas cahaya yang dihasilkan dibagi dengan daya listrik yang digunakan.
Walaupun lampu TL mempunyai keuntungan
yang besar yaitu pada penghematan daya, lampu TL juga mempunyai kerugian.
Kerugian lampu TL adalah :
q
Besarnya biaya pembelian
satu set lampu TL
q
Tempat yang digunakan oleh
satu set lampu TL lebih besar.
Oleh karena lampu TL standard measih
mempunyai kelemahan seperti yang disebutkan di atas maka dengan electronic
ballast tempat yang digunakan oleh sebuah lampu TL standar dapat diperkecil
sehingga menyamai tempat yang digunakan oleh sebuah lampu bolam.
Selain itu dengan electronic ballast dapat mengatasi adanya flicker
yang disebabkan karena turunnya frekuensi tegangan supplai.
Gambar 1 Blok Diagram Lampu TL Standar
Operasi lampu TL standar hanya membuthkan
komponen yang sangat sedikit yaitu : Ballast (berupa induktor), starter, dan
sebuah kapasitor (pada umumnya tidak digunakan) dan sebuah tabung lampu TL.
Konstruksi ini dapat dilihat pada gambar 1.
Tabung lampu TL ini diisi oleh semacam
gas yang pada saat elektrodanya mendapat tegangan tinggi gas ini akan
terionisasi sehingga menyebabkan elektron-elektron pada gas tersebut
bergerak dan memendarkan lapisan fluorescent pada lapisan tabung lampu TL.
Starter merupakan komponen penting pada
sistem lampu TL ini karena starter akan menghasilkan suatu pulsa trigger
agar ballast dapat menghasilkan spike tegangan tinggi.
Starter merupakan komponen bimetal yang dibangun di dalam sebuah tabung
vacuum yang biasanya diisi dengan gas neon.
Operasi Lampu TL Standar
Ketika tegangan AC 220 volt di hubungkan
ke satu set lampu TL maka tegangan diujung-ujung starter sudah cukup utuk
menyebabkan gas nenon didalam tabung starter untuk panas (terionisasi)
sehingga menyebabkan starter yang kondisi normalnya adalah normally open ini
akan ‘closed’ sehingga gas neon di dalamnya dingin (deionisasi)
dan dalam kondisi starter ‘closed’ ini terdapat aliran arus
yang memanaskan filamen tabung lampu TL sehingga gas yang terdapat didalam
tabung lampu TL ini terionisasi.
Pada saat gas neon di dalam tabung
starter sudah cukup dingin maka bimetal di dalam tabung starter tersebut
akan ‘open’ kembali sehingga ballast akan menghasilkan spike tegangan
tinggi yang akan menyebabkan terdapat lompatan elektron dari kedua elektroda
dan memendarkan lapisan fluorescent pada tabung lampu TL
tersebut..
Perstiwa ini akan berulang ketika gas di
dalam tabung lampu TL tidak terionisasi penuh sehingga tidak terdapat cukup
arus yang melewati filamen lampu neon tersebut. Lampu
neon akan tampak berkedip.
Selain itu jika tegangang induksi dari
ballast tidak cukup besar maka walaupun tabung neon TL tersebut sudah
terionisasi penuh tetap tidak akan menyebabkan lompatan elektron dari salah
satu elektroda tersebut.
Besarnya tegangan spike yang dihasilkan
oleh trafo ballast dapat ditentukan oleh rumus berikut :
Jika proses ‘starting up’ yang
pertama tidak berhasil maka tegangan diujung-ujung starter
akan cukup untuk menyebabkan gas neon di dalamnya untuk terionisasi (panas)
sehingga starter ‘closed’.
Dan seterusnya sampai lampu TL ini masuk pada kondisi steady state
yaitu pada saat impedansinya turun menjadi ratusan ohm .
Impedansi dari tabung akan turun dari dari ratusan megaohm menjadi ratusan
ohm saja pada saat kondisi ‘steady state’. Arus
yang ditarik oleh lampu TL tergantung dari impedansi trafo ballast seri
dengan impedansi tabung lampu TL.
Selain itu karena
tidak ada sinkronisasi dengan tegangan input maka ada kemungkinan pada saat
starter berubah kondisi dari ‘closed’ ke ‘open’ terjadi pada
saat tegangan AC turun mendekati nol sehingga tegangan yang dihasilkan oleh
ballast tidak cukup untuk menyebabkan lompatan elektron pada tabung lampu
TL.
Electronic Ballast
Pada prinsipnya kontroller lampu TL (sering
disebut sebagai ballast elektronic) terdiri dari
komponen yang memberikan arus dengan frekuensi tinggi di atas 18KHz.
Frekuensi yang biasa dipakai adalah frekuensi 20KHz
sampai 60KHz.
Aplikasi ini mempunyai beberapa
keuntungan yaitu :
q
Meningkatkan rasio
perbandingan konversi daya listrik
ke cahaya yang dihasilkan.
q
Tidak terdeteksinya kedipan
oleh mata karena kedipannya terjadi pada frekuensi yang sangat tinggi
sehingga tidak dapat diikuti oleh kecepatan mata.
q
Ballast elektronik ringan.
Tetapi dari keuntungannya tersebut
ditebus dengan kerumitan rangkaian jika dibandingkan dengan ballast
konvensional. Pada elektronik ballast terdapat 3
macam tipe yang sering digunakan yaitu :
q
Flyback inverter
q
Rangkaian Current source
Resonant
q
Rangkaian Voltage source
resonant
Gambar 2 Blok Diagram Ballast
Elektronik
Flyback Inverter
Tipe ini tidak terlalu populer karena
adanya pendekatan transien tegangan tinggi sehingga berdampak langsung
dengan penggunaan tegangan rangkaian tegangan tinggi begitu pula dengan
penggunaan komponen-komponen transistor untuk tegangan tinggi.
Selain itu rangkaian flyback akan
menurunkan efisiensi transistor karena kerugian pada saat switching .
Kerugian yang utama yaitu flyback inverter akan menghasilkan tegangan
berbentuk kotak dan arus berbentuk segitiga. Tegangan
dengan bentuk gelombang seperti ini tidak cukup baik untuk lampu TL. Agar
rangakaian ini dapat menghasilkan sinyal berbentuk sinus maka perlu
ditambahkan komponen induktor dan kapasitor.
Gambar 3 Blok Diagram Flyback Inverter
Rangkaian Current Source Resonant
Untuk rangkaian dengan menggunakan teknik
ini membutuhkan komponen tambahan induktor yang dinamakan feed choke.
Komponen ini juga harus menggunakan transistor tegangan tinggi.
Oleh karena itu rangkaian ballast elektronik ini membutuhkan biaya
yang lebih tinggi. Komponen transistor yang digunakan
harus mempunyai karakteristik tegangan breakdown (VBR harus lebih
besar dari 784 volt dan harus mampu mengalirkan arus kolektor sebesar 1
sampai 2A.
Gambar 4 Blok Diagram
Rangkaian Current Source Resonant
Rangkaian Voltage Source Resonant
Rangkaian ini paling banyak dipakai oleh
berbagai industri ballast elektronik saat ini.
Tegangan AC sebagai tegangan suplai
disearahkan dengan mengggunakan bridge DR dan akan mengisi kapasistor bank
C1. C1 akan menjadi sumber tegangan DC untuk tabung
lampu TL. Kemudian sebuah input filter dibentuk untuk
mencegah rangkaian dari tegangan transien dari tegangan suplai PLN dan
melemahkan berbagai sumebr noise EMI (Electro Magnetic Interferrence) yang
dihasilkan oleh frekuensi tinggi dari tabung lampu TL. Filter input ini
dibentuk dengan rangkaian induktor dan kapasitor. Blok
diagram rangkaian dapat dilihat pada gambar 5.
Gambar 5 Blok Diagram
Rangkaian Voltage Source Resonant
Input filter ini harus mempunyai
spesifikasi yang baik karena harus dapat mencegah interferensi gelombang
radio sehingga di Amerika input filter ini harus mempunyai sertifikat FCC.
Frekuensi resonansi yang dihasilkan dapat
ditentukan dengan menggunakan persamaan :
Pada saat rangkaian dihidupkan maka
tabung TL akan mempunyai impedansi yang sangat besar sehingga C4 seakan-akan
seri dengan L dan C3 sehingga didapatkan persamaan di atas.
Resonansi yang dihasilkan ini mempunyai
tegangan yang cukup besar agar dapat mengionisasi gas yang berada di dalam
tabung lampu TL tersebut. Kondisi ini akan menyebabkan
kondisi strating yang tiba-tiba sehingga dapat memperpendek umur dari
filamen karena filemen belum mendapatkan pemanasan yang cukup untuk
mengemisikan elektron. Kondisi ini ditentukan oleh
keadaan osilatornya.
Pada saat starting up ini pula terdapat
arus peak yang sangat besar, sebesar 4 kali arus steady state.
Oleh karena itu harus dipilih transistor yang mempunyai
karakterisktik arus kolektor sebesar 4 x arus steady yaitu sekitar 2.75A.
Arus steady besarnya sekita 0.75A. Sehingga Q1
dan Q2 harus mampu melewatkan arus sebesar 2.75A.
Ketika tabung TL telah terionisasi dengan
penuh maka impedansinya akan turun menjadi ratusan ohm saja sehingga akan
membuang muatan pada C4. Kondisi ini akan menggeser
frekuensi resonansi ke nilai yang ditentukan oleh C3 dan L.
Energi yang sedang digunakan tersebut sekarang lebih kecil begitu
pula dengan tegangan di antara elektroda-elektrodanya menjadi kecil pula.
Kondisi ini mengakhiri kondisi startup dari lampu TL ini.
Dibawah ini merupakan contoh aplikasi
untuk elektronik ballast dengan menggunakan transistor
power BUL45.
Gambar 6 Skematik Ballast
Elektronik
Yang perlu diperhatikan dalam
pengontrollan pada ballast elektronik adalah parameter dari transistor power
yang digunakan yang mampu menggaransi terjadinya keadaan
steady state dari lampu TL tersebut. |